October 11, 2020 eddye 0Comment

Bek kanan masih akan ditempati Alfath Fathier, Novri Setiawan juga bisa menjadi bek sayap kanan. Motta mungkin akan bermain di tengah. Mungkin sebagai gelandang. Sebab menurut CloverQQ, posisi pertahanan sayap kanan tidak akan kosong. Saya yakin posisinya akan sangat aman.

Membaca berita di atas, ada sedikit kekecewaan di hati saya. Tekad saya untuk mempekerjakan Marco Motta oleh Persia langsung berkurang. Harapan untuk melihat sepak bola Indonesia lebih berinovasi dalam hal taktik harus dikurangi.

Ketika saya membaca berita tentang “kepastian” Marco Motta di Persia pada awal tahun 2020, saya cukup bersemangat. Motta adalah seorang bek asal Italia, yang sudah merasakan seragam timnas senior dan bermain untuk klub-klub besar seperti Roma dan Juventus.

Tapi saya senang bukan karena Motta dicap sebagai timnas Italia dan eks Roma dan Juventus, tapi karena keberanian Persia untuk merekrut pemain asing dengan posisi back-to-back, atau lebih tepatnya sebagai bek kanan. Di Indonesia, pemain asing yang bermain di posisi ini sangat seksi.

Biasanya di Indonesia pemain asing yang direkrut adalah pemain dengan posisi tengah menyerang, gelandang serang dan bek tengah. Ketiga posisi ini sangat penting, karena secara teori fungsi dari ketiga posisi tersebut sangat mempengaruhi kualitas pertahanan dan serangan tim; pertahanan tengah sebagai pelindung dari pelanggaran gawang, gelandang serang sebagai pencipta serangan, gelandang tengah maju sebagai bek pertahanan lawan.

Tidak banyak pemain asing di Indonesia yang memiliki posisi riil di luar tiga posisi di atas. Bahkan di era Indonesia dari Liga Super hingga Liga 1 sekarang, pemain yang tidak dalam posisi default bisa dihitung dengan jari.

Seperti yang teman-teman Twitter saya sebutkan beberapa waktu lalu, ada Pradith Taweechai, Phaitoon Thiabma, Deca dos Santos dan Diogo Rangel di tiang kanan, Tanasit Tong In atau David da Rocha di kiri. Juga Satoshi Otomo, Muhamad Ridhuan, Itimi Dickson, Esteban Vizcarra dan yang terbaru Ciro Alves di pos sayap. Memang ada nama lain, namun hal di atas akan mudah diingat karena tidak bermain di tiga posisi “tengah”.

Harapan saya dengan kedatangan Motta ini bisa menjadi awal dari gelombang pemain asing yang bukan bek tengah, gelandang dan penyerang tengah. Saya ingin Persia dan Motta memberi contoh kepada klub lain bahwa pemain di posisi belakang sama pentingnya dengan tiga posisi “tengah”.

Lihat saja dampak klub Indonesia yang mulai membutuhkan bek asing. Senang sekali melihat Brwa Nouri yang menguasai lini tengah Bali United, sangat menarik ketika Kei Hirose bisa merusak tumpukan serangan lawan lewat mobilitas dan kemampuannya menekan lawan, atau bahkan aksi Nazari tak terlihat Omid di tengah yang bisa tanpa sadar meningkatkan lini pertahanan dan serangan Persib di babak kedua.

Para gelandang bertahan tanpa disadari mengajar sepakbola modern seperti yang ditunjukkan klub-klub besar Eropa di sepakbola Indonesia. Para pemain ini adalah apa yang dibutuhkan untuk sistem sepakbola modern; Sehingga membuat pemain seperti Fabinho, Rodrigo, Casemiro, Van De Beek, sangat dibutuhkan oleh timnya.

Dan ternyata hal ini pula yang membuat gelandang bertahan Indonesia ini mulai tampil lebih elegan. Bayu Pradana, Fadil Sausu, Paulo Sitanggang telah menjadi anggota timnas dan bahkan Hariono kini mampu melakukan umpan-umpan penting. Pun dengan transformasi Rizky Pellu yang tak lagi dikenal sebagai “penghasil gaprak”.

Melihat posisinya sebagai gelandang bertahan, ini juga yang saya harapkan dari posisinya sebagai full defender, apalagi dengan datangnya Motta. Sebab lambat laun, pilar full back menjadi sosok penting dalam sepakbola modern saat ini.

Mobil-mobil kecil Liverpool selama dua musim terakhir tidak terlepas dari permainan papan atas Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson di kedua tim. Man City merekrut Benjamin Mendy, Kyle Walker, Danilo dan Joao Cancelo untuk meningkatkan kualitas dua bek sayap. Atau ketika David Alaba, Joshua Kimmich dan Sergi Roberto menjadi pendiri Bayern dan Barcelona meski bermain di sayap. Otak para penyerang dari tim-tim besar secara tidak sengaja mulai berputar di pos ini (periksa statistik jumlah back pass mereka, dipastikan menjadi yang tertinggi).

Indonesia sebenarnya tidak mengabaikannya. Namun bagi klub-klub Indonesia tugas ini menjadi skala prioritas untuk meningkatkan kualitas yang pada akhirnya tetap bergantung pada para pemainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *